Abstrak
Penelitian ini mengkaji fenomena pergeseran dan resiliensi nilai sosial budaya pada masyarakat Bali menghadapi arus modernisasi dan pariwisata global. Fokus penelitian di wilayah Singaraja dan sekitarnya memperlihatkan bahwa tradisi lokal memiliki fleksibilitas adat yang tinggi tanpa mengorbankan esensi keagamaan. Hasil kajian akademis dari STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini memberikan gambaran komprehensif mengenai strategi masyarakat Bali dalam merawat identitas budayanya.
Pendahuluan
Modernisasi dan globalisasi sering kali dipandang sebagai ancaman bagi kelestarian budaya lokal. Namun, masyarakat Bali menunjukkan fenomena unik di mana tradisi dan modernitas dapat berjalan bersisian. Melalui kajian yang dilakukan peneliti di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, dinamika sosial budaya ini diurai secara kritis untuk memahami mekanisme pertahanan budaya lokal.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah studi etnografi kualitatif dengan teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam bersama tokoh adat, akademisi, serta masyarakat setempat di Buleleng, Bali.
Hasil dan Pembahasan
Fokus pembahasan mencakup beberapa poin strategis berikut:
- Adaptasi Adat dan Tradisi: Pelaksanaan ritual keagamaan mengalami penyesuaian waktu dan efisiensi tanpa mengurangi makna spiritualnya.
- Peran Desa Adat: Desa Adat memegang peranan kunci sebagai benteng pertahanan nilai-nilai kearifan lokal di tengah tekanan ekonomi pasar.
- Kontribusi Perguruan Tinggi: STAHN Mpu Kuturan Singaraja secara aktif memberikan rekomendasi berbasis riset untuk penguatan regulasi kebudayaan daerah.
Kesimpulan
Masyarakat Bali terbukti memiliki ketahanan budaya yang kuat melalui mekanisme adaptasi yang dinamis. Penelitian berkesinambungan oleh sivitas akademika STAHN Mpu Kuturan Singaraja menjadi sangat penting sebagai fondasi pelestarian nilai budaya untuk generasi mendatang.
