EKSISTENSI TIRTHA PENGENTAS DI PURA MAKSAN GEDE DESA KUBUTAMBAHAN KECAMATAN KUBUTAMBAHAN KABUPATEN BULELENG

wayan Sunampan

Sari


Tirtha pengentas is one of the means in the ceremony of giving. In general, tirtha pengentas are usually made by a sulinggih. However, it is different from the existing tirtha pengentas in Kubuaddan Village, Kubuaddan District, Buleleng Regency. In the process of the pitra yadnya ceremony, tirtha trimmers were obtained at the Maksan Gede Temple. Based on this problem, a research was conducted by focusing on the existence of tirtha penetas at Maksan Gede Temple, Kubuaddan Village, Kubuaddan District, Buleleng Regency. This study has a purpose to describe the existence of tirtha penetas by using theories and methods in analyzing data. The discussion of this research is about the Maksan Gede Temple as a place for the procurement of tirtha pengentas. Maksan Gede Temple is one of the temples in Kubutambahan Village, Kubutambahan District, Buleleng Regency. The structure of this temple consists of a tri mandala. The facilities used in conducting tirtha pengentas are water, reeds, gold pieces, sandalwood. The ceremonial facilities used are in the form of a sacred offering which is offered to Ratu Gede Shiva to ask for tirtha of the pengentas. The process of holding tirtha pengentas begins with preparing ceremonial facilities by both Jro Mangku and Jro Serati. After all the facilities are ready then jro mangku will do piuning to ask for tirtha to Ratu Gede Shiva which is also followed by the local community. When it is finished, the alleviation tirtha will be taken to the place of worship. Based on this description, it can be concluded that tirtha alleviation is not only made by a sulinggih. Tirtha reducer also has various functions.

Keywords: Existence, Tirtha pengentas, Maksan Gede Temple


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Air, M. (2022). FUNGSI DAN MAKNA AIR DALAM KEHIDUPAN. Jurnal Widya Aksara Vol, 27(1).

Ambarnuari, M. (2019). UPACARA NGABEN WARGA PANYUWUNGAN DI DESA ABIANBASE KABUPATEN GIANYAR. PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU, 22(2), 23-33. Paramita, A. A. G. K. (2021). Filosofi Tirta Sebagai Air Suci Dalam Implementasi Upacara Dewa Yadnya. Widya Katambung, 12(2), 32-40.

Arwati, Ni Made Sri. 2005. Bentuk, Fungsi, dan Makna Upacara Yadnya. Milik Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.

Arwati, Ni Made Sri. 2006. Sembahyang Ketempat Suci. Untuk ibu-ibu umat Se-Dharma

Aryana, I. M. P. (2020). Nilai Ketuhanan Hindu dalam Sarana Upacara Bale Gading. PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU, 22(1), 1-17.

Bhattacarya, W., & Riyanto, E. D. (2022). Tri Mandala: Kearifan Lokal Bali dalam Pembagian Zonasi dan Ruang pada Bangunan Pura di Kabupaten Sidoarjo. Sphatika: Jurnal Teologi, 13(1), 108-119.

Dwiartawan, I. G. A. (2020). Nilai Pendidikan Agama Hindu Yang Terkandung Dalam Upacara Muspa Rayunan Pada Pura Pemaksan Desa Di Banjar Paketan. WIDYALAYA: Jurnal Ilmu Pendidikan, 1(2), 129-137.

Ghazali, Adeng Muchtar. 2011. Antropologi Agama: Upaya Untuk Memahamikeragaman, Kepercayaan, Keyakinana, dan Agama. Bandung: Alfabeta.

Koentjaraninggrat. 2005. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografi II. Jakarta: Universitas Indonesia.

Ni Kadek, K., & I Made, S. (2019). Produksi kerajinan sarana upacara dan gaya hidup religius masyarakat Gianyar. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(01), 97-104.

Putri, E. K. (2018). PENGARUH UPACARA NGABEN MASSAL PADA MASYARAKAT HINDU BALI TERHADAP INTEGRASI SOSIAL (Studi Kasus di Desa Sidorejo Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur) Skripsi (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Redana, I. M. K. (2019). EKSISTENSI TIRTHA PENEMBAK DALAM UPACARA NGABEN DI KECAMATAN NARMADA KABUPATEN LOMBOK BARAT. Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, Dan Masyarakat, 2(2), 42-56.

Saputra, M. A., Syahrun, S., & Rustiani, K. W. (2021). MAKNA SARANA DAN PRASARANA UPACARA NGABEN PADA ETNIS BALI DI DESA LAMOARE KECAMATAN LOEA KABUPATEN KOLAKA TIMUR SULAWESI TENGGARA. LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya, 4(2), 121-126.

Suadnyana, I. B. P. E. (2021). Fungsi Religius Rerajahan Semara Ratih Pada Upacara Metatah. Pramana: Jurnal Hasil Penelitian, 1(1), 76-88.

Sukrawati, Ni Made. 2019. Acara Agama Hindu. Denpasar: UNHI Press

Suryada, I. G. A. B., & Bagus, G. A. (2012). Konsepsi Tri Mandala Dan Sanga Mandala Dalam Tatanan Arsitektur Tradisional Bali. Jurnal SUlapa, 4(1), 23-32.

Suryawan, G. M. (2020). Upacara Nuur Tirtha Desa Adat Dharmajati Tukadmungga, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng Pada Pujawali di Pura Puseh. Prabha Vidya, 2(2), 59-68.

Wiana, I Ketut. 1992. Sembahyang Menurut Hindu. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.

Wiana, I Ketut. 2002. Makna Upacara Yajna Dalam Agama Hindu. Surabaya:Paramita.

Wiana, I Ketut. 2009. Pura Besakih Hulunya Pulau Bali. Surabaya: Paramita.

Wikarman, I Nyoman Singgin. 1998. Sanggah Kamulan: Fungsi dan Pengertiannya. Surabaya: Paramita.

Wirawan, Ide Bagus. 2014. Teori-Teori Sosial dalam Tiga Pradigma. Jakarta: Kencana Praneda Media Group.

Yasa, I. M. A. (2022). Ritual Megocek Taluh Pada Upacara Pujawali Pura Maksan Banjar Pajang (Perspektif Agama Hindu). Jurnal Penelitian Agama Hindu, 6(2), 28-44.

Yasa, I. N. K. (2022). Kajian Kesakralan Air Suci Siwa Gangga Sebagai Pemuput Upacara Agama Hindu di Desa Adat Bukian, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung (Lokal Jenius Bali Aga). Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial, 3(1), 1-13.




DOI: https://doi.org/10.55115/gentahredaya.v6i2.2406

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##