HUKUM ADAT KEKELUARGAAN DAN KEWARISAN DI BALI

Putu Maria Ratih Anggraini, I Wayan Titra Gunawijaya

Sari


Eksistensi Hukum Adat di Bali hingga kini masih sangat kuat. Salah satu hukum Adat yang masih kuat adalah kekeluargaan yang menganut sistem ke-Bapaan (Vaderrechtelijk). Dalam sistem ke-Bapaan, istri memasuki keluarga suaminya. Anak-anak akan terkait kepada keluarga ayah (suaminya) dan tidak ada hubungan lurus kepada keluarga ibunya. Tujuan perkawinan menurut hukum agama Hindu adalah untuk mendapatkan keturunan dan untuk menebus dosa-dosa orang tua dengan menurunkan seorang putra. Pada masyarakat kekerabatan adat Bali yang patrilinial, perkawinan bertujuan mempertahankan garis keturunan bapak, sehingga anak laki-laki tertua harus melaksanakan bentuk perkawinan ambil istri, dimana setelah terjadi perkawinan istri ikut masuk dalam kekerabatan suami dan melepaskan kedudukan adatnya dalam susunan kekerabatan bapaknya. Apabila keluarga patrilinial tidak mempunyai anak lelaki, maka anak perempuan dijadikan berkedudukan seperti anak laki-laki. Apabila tidak mempunyai anak sama sekali maka berlakulah adat pengangkatan anak. Apabila kita membicarakan tentang pengaduan dan peradilan menurut sistem hukum adat dibandingkan dengan sistem hukum barat yang kini kita gunakan, maka tidak banyak yang dapat dibicarakan. Namun tidak berarti bahwa hukum adat tidak mengenal sistem peradilan dalam menyelesaikan perselisihan diantara warga masyarakat hukum adat, yang pada umumnya bersifat perdata dan sampai sekarang masih berlaku.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Anggraini, P. M. R., & Mahardika, G. (2020). PANDANGAN FILSAFAT PERENNIAL TERHADAP KRISIS SPRITUAL MANUSIA MODERN. Genta Hredaya, 3(1). Darmawan, I. P. A. (2020). ANIMISME DALAM PEMUJAAN BARONG BULU GAGAK DI BALI. Genta Hredaya, 4(1). Gunawijaya, I. W. T. (2020). KONSEP TEOLOGI HINDU DALAM GEGURITAN GUNATAMA (Tattwa, Susila, dan Acara). JñÄnasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 2(1).

Hilman Hadikusuma, 2007. Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama. CV. Mundur Maju, : Bandung. Kariarta, I. W. (2019). KONTEMPLASI DIANTARA MITOS DAN REALITAS (CONTEMPLATION BETWEEN MYTHS AND REALITIES). JñÄnasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 1(1).

Pudja M.A, 1974. Pengantar Tentang Perkawinan Menurut Hukum Hindu (didasarkan Manusmriti). Dirjen Bimas Hindu & Budha Depag : Jakarta.

Pudja dan Tjokorda Rai Sudharta. 1978. Manawa Dharmasastra. Dit.Jen Bimas Hindu dan Departemen Agama RI : Jakarta.

Pudja dan Tjokorda Rai Sudharta 1995. Manawadharmasastra. Denpasar : Upada Sastra. Somawati, A. V., & Made, Y. A. D. N. (2019). IMPLEMENTASI AJARAN TRI KAYA PARISUDHA DALAM MEMBANGUN KARAKTER GENERASI MUDA HINDU DI ERA DIGITAL. Jurnal Pasupati Vol, 6(1). Suadnyana, I. B. P. E. (2020). Ajaran Agama Hindu Dalam Geguritan Kunjarakarna. Genta Hredaya, 3(1). Untara, I. M. G. S. (2019). KOSMOLOGI HINDU DALAM BHAGAVADGĪTÄ€. JñÄnasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 1(1).

Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

I Gusti Ayu Agung Ariani. 2005. “Hukum, Budaya dan Pariwisata : Akses dan Kontrol Perempuan Terhadap Harta Kekayaan Keluarga dalam Sistem Kekeluargaan Patrilineal di Bali (Kasus di Kawasan Wisata Desa Adat Legian, Kuta Bali)â€. Disertasi, PDIH. Undip.Semarang.

Wayan P. Windia dan Ketut Sudantra, 2006, Pengantar Hukum Adat Bali, Lembaga Dokumentasi dan Publikasi FH Unud, Denpasar.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats