Aktualisasi Manusia Hindu Dalam Ritual Diksa

Yunitha Asri Diantary Ni Made, I Made Hartaka

Sari


Manusia dalam pandangan hindu terdiri dari dua unsur yakni jasmani yakni tubuh manusia dan rohani yaitu atman sebagai hakikat Tuhan dalam diri manusia. Penyatuan dua unsur ini mengangkat manusia menjadi sebagai makhluk ilahi, dimana segala hal yang tampak disekitar kita adalah hasil dari kesadaran ilahi. Setiap manusia wajib untuk mengelola diri sesuai ajaran dharma, sebagaimana tubuh manusia mempunyai makna penting bagi jiwa-atma yang menjadi akar hidup dan dilahirkan menjadi badan jasmani (sthula sarira) pada dasarnya sebagai manusia dalam pandangan Hindu adalah keutamaan atau kemuliaan. Tubuh adalah alat atau sarana sebagai wujud atas kehendak Sang Hyang Widhi yang tampak didunia, agar Sang Atma dapat menyelesaikan masalahnya dengan sarana tubuh dalam melakukan kebajikan (Dharma). Hanya melalui ajaran kerohanian dan kesusilaan agama yang disebut dharma seseorang akan dapat mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu kebebasan atman/roh dari penderitaan hidup duniawi

Moksa atau pembebasan adalah tujuan akhir dari umat Hindu, sehingga dalam proses pencapaiannya perlu tahapan dan fase yang cukup berat untuk dilalui. Tubuh sebagai media utama dalam menjalankan tahapan yang dimaksud patut untuk diarahkan melaksanakan tugas dan kewajiban yang berlandas dharma, sehingga tubuh manusia tidak larut dalam kegelapan atau awidya yang diakibatkan oleh keterikatan yang penuh terhadap benda-benda duniawi. Orang yang terlalu terikat dengan hal-hal duniawi akan sering menggunakan segala cara dalam mencapai tujuan duniawinya. Ajaran agama serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya wajib kiranya untuk diterapkan sebagai tahapan awal penyucian diri. Adapaun ajaran suci yang sejatinya dapat diamalkan yakni Tri Kaya parisuda, Panca yama brata, Panca Niyama Brata dan Tri Parartha. Selain itu dalam penyucian diri tidak kalah pentingnya manusia hindu untuk mempelajari pengetahuan suci para vidya dan aparavidya.

Jalan diksa adalah kewajiban yang harus dijalankan di bumi, ketika manusia sadar akan tujuan dan kemampuan ilahinya. Diksa merupakan pintu pembuka menuju penyatuan dengan Tuhan. Dalam konsep yang dibangun terkait dengan diksa tidak hanya didefinisikan sebagai upacara inisiasi, melainkan diksa sebagai institusi atau pranata yang merupakan sebuah sistem terintegrasi atas berbagai sub-sistem yang terdiri atas: sisya (murid spiritual)- siksa (penggemblengan), pariksa ( seleksi), diksa (inisiasi), pandita (pendeta), sista (pendeta ahli), siva (teofani), moksa (pembebasan) untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Dengan demikian diksa adalah proses penyucian diri. Orang yang mediksa sebenarnya adalah menyucikan diri, dan tidak ada lain, karena para pandita adalah orang suci yang sudah terlahir kedua kalinya dari sastra. Melalui pelaksanaan diksa dengan benar dan sesuai aturan, manusia dapat mengaktualisasikan dirinya di jalan yang benar untuk menjadi manusia suci lahir batin.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Atmaja, I Made Nada, tim.2010. Etika Hindu. Surabaya: Paramita

Atmadja, Nengah Bawa.dkk. 2017. Bali Pulau Banten Perspektif Sosiologi Komodifikasi Agama. Singaraja: Pustaka Lasaran.

Bhalla, Prem.P.2010. Tata Cara, Ritual, Dan Tradisi Hindu. Surabaya: Paramita.

Donder, I Ketut. 2009. Brahmawidya- Teologi Kasih Semesta. Surabaya: Paramita.

Donder, I Ketut. 2009. Teologi: Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Surabaya: Paramita.

Donder, I Ketut. 2013. “Logical Interpretation of Some Performing Hindu Rituals”.

Disertasi. Kolkata India: Rabhindra Bharati University

Hartaka, I. M., Ardiyani, L. P. C., & Suciani, K. (2020). Berbagai Sikap Terhadap Eksistensi Tuhan Pada Era Industri 4.0. Vidya Darśan: Jurnal Filsafat Hindu, 1(2).

Hartaka, I. M. (2020). MENINGKATKAN KESADARAN INDIVIDU MELALUI AJARAN KARMAPHALA. Widya Katambung, 11(1), 18-33.

Made, Y. A. D. N., & Hartaka, I. M. (2021). Dharmagita; Seni Budaya Dalam Siar Agama Hindu. JÃ±Ä nasiddhâ nta: Jurnal Teologi Hindu, 2(2), 76-85.

Mas, A.A. Gede Raka.2012. Runtuhnya Kemuliaan Manusia Menurut Perspektif Hindu. Surabaya: Paramita.

Maswinara, I Wayan.1996. Konsep Panca Sraddha. Surabaya: Paramita.

Miartha, I Wayan. 2007. Pedoman Pelaksanaan Padiksan. Denpasar: Pengurus Pusat MGPSSR

Miartha, I Wayan. 2015. “Diksanisasi Mahagotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR)di Bali”. Disertasi. Denpasar: Program Pascasarjana IHDN Denpasar

Miartha, I Wayan. 2015. Diksanisasi Teogeneologis-Teoantropologis.Denpasar: Yayasan Santha Yana Dharma MGPSSR.

Raka, A.A. Gede.2007. Tuhan, Manusia, dan Alam Semesta. Denpasar: Majalah Hindu Raditya.

Sudharta, Tjok. Rai.2004. Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasasrta). Surabaya: Paramita.

Sudharta, Tjok. Rai.2009. Sarasamusccaya Smerti Nusantara (Berisi Kamus Jawa Kuno-Indonesia). Surabaya: Paramita

Suhardana, K.M. 2008. Dasar-Dasar Kesulinggihan Suatu Pengantar Bagi Sisya Calon Sulinggih. Surabaya: Paramita.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.

Suratmini, Ni Wayan.2012. Merawat Diri Untuk Menjaga Kesucian Lahir Bhatin. Surabaya: Paramita.

Suryani I Gusti Ayu Putu, tim.2014. Pendidikan Agama Hindu Di Perguruan Tinggi.Denpasar: Udayana University Press.

Puspa, Ida Ayu Tary, tim. 2018. Eksistensi Nabe Istri Griya Pidada Klungkung Dalam Upacara Dikṣa: Perspektif Teologi Feminis. Vidya Samhita: Jurnal Penelitian Agama, IV (1), hal: 55-61.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

View My Stats